Mia’s Weblog


Mari kita ke Surga, Bersama-sama
July 26, 2008, 4:35 am
Filed under: about life, islamic | Tags: , , , ,

Bismillahirahmanirrahiim…

Semalam ketika aku baca blog beberapa orang temanku  aku menemukan tulisan ini di blog anies. Tulisan ini adalah sepenggal cerita hidup dari seseorang yg aku kenal baik dan kukagumi sosoknya. Semoga bisa menjadi pelajaran

ijin ya nies…

Berjalan menuju surga, bersama-sama. Alangkah indahnya.
Pernikahan. Ikatan itulah yang menggenapkan separuh dien dan menghadirkan teman sejati kita. Ikatan itu pulalah yang menghalalkan perjalanan kita menuju…. Surga.
Ingin kumulai kisah, tentang sebuah keluarga. Mungkin tak kan lengkap kutuliskan, karena hanya sepotong yang kutahu, sungguh. Tapi aku ingin tetap berbagi.
Fakta 1
Seorang muslimah cerdas, mapan, mandiri, usia diatas 30 tahun dan belum menikah.
Banyak konflik tentunya. Diri sendiri, teman dekat, keluarga apa lagi. Tapi telah menjadi keyakinannya bahwa hanya saatnya saja yang belum tiba. Kemudian…
Seseorang bertanya padanya, “Mbak, kriteria suami seperti apa yang mbak inginkan?”. “Dewasa dan pintar”, jawabnya. “Bagaimana apabila ada sosok yang menurut saya seperti itu dan mempunyai niat yang baik terhadap mbak, namun usianya jauh dibawah Mbak?”. Dan tibalah saat itu. Saat harus memutuskan bahwa : inilah saatnya!
Saat karir telah menjadi pencapaiannya. Saat hidup baru telah dipilihnya. Saat harus memilih salah satu diantaranya … (harus memilih kah?)
Fakta 2
”Bagi saya yang terpenting dan utama adalah keluarga”, ucapnya.
Aku suka menatapnya bicara. Berapi-api. Penuh semangat. Optimis. Dari situ, aku tahu bahwa beliau adalah muslimah yang tegar. Beliau mengikuti suaminya yang saat itu tugas belajar ke Swedia. Bukan tanpa resiko. Harus diputusnya kontrak-kontrak kerja yang mengembangkan karirnya, ditinggalkannya pula pekerjaannya.
Fakta 3
”Butuh 2 tahun untuk benar-benar bisa putus dengan komitmen-komitmen yang telah saya buat dengan banyak pihak tersebut”.
Saat aku menuliskannya, mungkin hanya beberapa baris kalimat. Tapi, dengan segala kepekaanku sebagai seorang wanita, aku tahu bahwa hal tersebut bukan hal yang mudah baginya.
Fakta 4
Tentang Mars dan Venus
”Suami saya itu pelupa”.
”Suami saya itu … romantis”.
”Suami saya itu pandai mengungkapkan perasaannya”.
”Suami saya itu rapi”.
”Saya tidak terlalu romantis”.
”Saya tahu dimana saya meletakkan barang saya meskipun saya menaruhnya dengan berantakan”.
Aku tersenyum. Rasanya aku ikut menikmati kebahagiaan dari kedua matanya. Pada awal menikah, persoalan lupa menaruh barang menjadi bumbu bagi hari-hari mereka. ”Suami saya itu rapi, tapi juga pelupa. Sehingga ketika harus bekerja di rumah, maka di rapikannya seluruh barang-barangnya, termasuk barang-barang saya. Ketika saya menanyakan dimana barang saya, suami saya bilang gak tahu. Maka terjadilah pertengkaran kecil itu”. Beliau tertawa. ”Tapi lama-lama, sifat suami saya yang pelupa itu menjadi bahan guyon saja”. Beliau berhenti bicara.
Tersenyum. ”Suami saya banyak melakukan hal-hal yang membuat saya tersanjung. Suami saya sering membuat kata-kata indah dan romantis. Membuat kartu-kartu kasih sayang dengan tangannya sendiri. Membawakan saya bunga. Selalu membelikan hadiah jika pulang bepergian. Apalagi kalau pulang dari luar negeri, suami saya membelikan saya baju-baju privat yang saya tahu harganya sangat mahal. Saya pun memakainya demi menyenangkan hati suami.”
“Suami saya sangat perhatian. Suami saya sering menyarankan saya memakai krim kulit. Memberitahukan kepada saya produk kecantikan yang mungkin cocok buat saya. Mendukung saya untuk kemudian memakainya”.
”Suami saya sangat menyanjung masakan saya. Suami saya sering membanggakan saya di depan teman-temannya”. Beliau menghela nafas. Rindu.
Fakta 5
Di Swedia
”Suami saya mengajar di Swedia. Demikian juga saya. Namun ketika saya kemudian hamil setelah menanti lama, saya memutuskan untuk berhenti. Padahal di Swedia pemerintah sangat mendukung wanita yang hamil. Bagi wanita yang hamil disediakan waktu cuti 2 tahun dan selama itu diberikan gaji 80%. Sementara suami juga diharuskan cuti selama beberapa bulan”.
”Bagi saya, saat itu adalah fase ideal di kehidupan saya. Aktivitas saya di rumah dan forum mengaji saja. Sebelumnya, saya hanya punya hari Sabtu dan Ahad untuk aktivitas tersebut. Jika suami sibuk, saya yang menyiapkan bahan baginya untuk mengisi forum liqo’at suami saya. Jika suami senggang sementara saya sibuk mengurus anak, maka suami saya yang membuatkan bahan untuk saya”.
”Kami senang menjamu tamu. Kami menyewa rumah yang ada satu kamar kosongnya khusus buat tamu. Meskipun kami spent lebih banyak untuk sewa rumah, tapi kami senang bisa melakukannya. Jadi, jika ada saudara Muslim yang datang ke Swedia, biasanya tempat kami yang direkomendasikan, karena kami memang menyediakan sebuah kamar untuk tamu. Dan telah menjadi komitmen kami, nanti jika kami bisa membangun rumah sendiri pun akan seperti itu. Kami akan menyediakan sebuah kamar untuk tamu”.
”Suami saya sering menghabiskan banyak uang yang disebutnya sebagai ’tabungan’ untuk membantu orang. Saya kadang-kadang komplain. Bukannya saya pelit, tapi menurut saya yang diberikan suami kepada orang lain tersebut sangat berlebihan. Pada awalnya hal ini cukup membuat saya berpikir. Kami terlalu banyak menghabiskan untuk orang lain. Sementara untuk kami sendiri rasanya porsinya sedikit. Tidak hanya materi, namun juga waktu dan pikiran”. Tapi visi awal pernikahannya telah menguatkannya. ”Tapi saya melihat, ketika suami saya dalam kesulitan, ada saja jalan keluar yang membuat saya merasa bahwa itu balasan dari sifat suami saya yang sering memberikan bantuan. Subhanallah. Bahkan, jika suami saya sudah lama tidak memberikan bantuan, suami saya sering ”memaksakan” untuk memberikannya”.
”Dalam pekerjaan rumah tangga, kami bernagi. Saya bagian melayani Wafi, belanja dan memasak, sementara suami saya bagian mengurus rumah dan mencuci baju. Kami tidak mempunyai pembantu”.
”Disamping fitrah laki-laki mungkin, take care of family yang dimiliki suami saya sangat luar biasa. Saya merasa bahwa suami saya sangat melindungi dan mencintai keluarganya- saya dan Wafi”.
“Dalam sebuah dauroh keluarga yang pernah kami ikuti, kami diminta menyebutkan kelebihan pasangan masing-masing. Saya sangat terharu, ketika saya hanya bisa menuliskan beberapa baris kelebihan suami saya, sementara suami saya menuliskan banyak sekali kelebihan saya. Bahkan hal-hal yang sebelumnya saya tidak tahu tentang diri saya ternyata bagi suami saya adalah kelebihan saya. Sampai sekarang saya masih menyimpan daftar itu”. Tersenyum.
Fakta 6
”Sekarang adalah fase yang tidak ideal dalam hidup saya”. Tersenyum.
“Saya di Indonesia bersama anak saya yang sekarang berusia 4 tahun. Bekerja. Tinggal bersama keluarga kakak saya. Keluarga saya tidak mengizinkan saya tinggal sendiri sebelum suami saya pulang keIndonesia”.

“Suami saya telfon hampir 2 hari sekali dari Swedia. Setiap saya bangun dini hari, setelah itu saya sms suami dan suami saya telfon. Di Swedia masih sore jam segitu. Masih jam 9 malam mungkin. Suami masih di kantor karena biasa pulang tengah malam. Kami setiap saat sms dan email. Kebiasaan saling menyiapkan materi kajian jika salah satu diantara kami sibuk masih terus berlanjut lewat email. Setelah Wafi bangun adalah waktu buat Wafi”.
Wafi belajar di TKIT dari jam 8 pagi sampai jam 4 sore. Waktu antara jam 8 dan jam 4 itulah yang dimanfaatkan beliau untuk mengoptimalkan kerja-kerjanya. Beberapa kelompok yang beliau pegang diampu diantara jam tersebut. Sementara kelompok yang beliau ikuti baru bisa dijalani malam hari, itupun mengajak Wafi. Oleh karena itu, banyak agenda malam hari yang tidak bisa beliau ikuti karena mempertimbangkan Wafi. Saat di Swedia, dengan ijin suami, beliau dapat melakukan aktivitas di luar sementara Wafi bersama suami beliau.

Itu tentang sepenggal episode kehidupan yang bisa saya tuliskan. Beliau adalah dosen saya. Ir. Siti Syamsiah Ph.D. Beliau dosen Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik UGM. Saya sangat terinspirasi dengan beliau. Banyak hikmah yang dapat kita petik, semoga. Bagaimana manajemen rumah tangga beliau. Bagaimana menyikapi perbedaan. Bagaimana manajemen komunikasi. Bagaimana mempertahankan keharmonisan. Bagaimana manajemen ekonomi. Dan yang terpenting, bagaimana manajemen dakwah dan tarbiyah.


4 Comments so far
Leave a comment

walah2 subhanallah….memang di manajemen dakwah dan tarbiyah byk y bisa kita dapat…..

Comment by eL@

baca kedua kali rasax pngen nikah euy….hahahhaha ^_^

Comment by eL@

k ela: kalo gitu segeralah menikah kak ^_^

Comment by myblu3sky

^_^

Comment by eL@




Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>